Cerita KotaPublikasi

Nama Gedoeng Woloe Diambil dari Deretan Delapan Rumah dengan Gaya Arsitektur Serupa

Ramapati Pasuruan — Gedoeng Woloe yang juga menjadi bangunan peninggalan jaman Belanda yang terletak di jalan Soekarno Hatta 58 Kelurahan Karanganyar Kecamatan Panggungrejo Kota Pasuruan ini dibangun pada awal abad ke- 20 oleh seorang Kapitein der Chineezen sebagai tempat tinggal atau rumah pribadi.

Seiring berjalannya waktu, bangunan ini mengalami perubahan fungsi dan kepemilikan. Dulunya gedung ini dimiliki orang yang gemar kuda sehingga gedoeng woloe terkenal sebagai kandang kuda.

Namun sekarang oleh pemiliknya yang merupakan seorang pengusaha dealer motor besar di Padang, Gedoeng Woloe dirubah menjadi gedung pertemuan dan restoran.

Nama Gedoeng Woloe sendiri diambil dari nama kawasan pada masa lalu, dimana sebelah baratnya terdapat deretan delapan rumah dengan gaya arsitektur serupa. Masyarakat Pasuruan menyebut kawasan ini dengan nama Dong Wolu yang artinya gedung delapan.

Jika melewati gedung ini, akan terlihat angka 8 yang besar terbelah di gerbang masuk, pengunjung akan masuk dari sebelah kiri dan keluar dari sebelah kanan.

Pengunjung yang masuk nanti bisa menikmati pesona bangunan lawas yang memiliki gaya arsitektur Indische Empire yang mewah dan megah. Fasad bangunan terdiri dari kolom ionic ganda berbahan beton, pintu-pintu ganda dari kayu jati dengan hiasan khas di bagian atasnya, lantai bangunan terbuat dari marmer.

Gedoeng Woloe ini dibangun diatas lahan seluas 10.161m² dan ditetapkan sebagai cagar budaya Kota Pasuruan berdasarkan Surat Keputusan Walikota Pasuruan Nomor 188/496/423.031/2015, dan menjadi salah satu bangunan dari 20 bangunan atau kawasan yang diakui sebagai cagar budaya di Kota Pasuruan.

Sumber berita:
Proposal Daya Tarik Wisata Budaya Kelurahan Karanganyar oleh Pokdarwis Karanganyar dalam pelaksanaan East Java Tourism Award (EJTA) tahun 2023.