Pasuruan Kota Madinah. Kompetensi ASN di tingkat kabupaten kota saat ini perlu adanya pengembangan SDM tingkat ASN untuk menunjang kinerja peningkatan pelayanan publik ke masyarakat baik dari diklat maupun pendidikan yang lebih tinggi. Oleh karena itu dalam forum ini Wali Kota Pasuruan, Saifullah Yusuf (Gus Ipul) memaparkan kondisi ASN di Pemerintah Kota Pasuruan saat ini dilakukan secara daring kamis (22/7/2021).

 Saat ini Kota Pasuruan masih belajar contohnya pada saat mutasian masih dilakukan secara manual sehingga data terkait dengan pegawai belum terinformasikan secara maksimal. Ketika kita menerima usulan maka paling tidak kita menerima track record atau perjalanan karir pegawai. Ujar Gus Ipul.

 Gus Ipul memaparkan misinya Pasuruan Kota madinah. Maju ekonominya, indah kotanya, harmonis warganya. Lebih lanjut Gus Ipul menyampaikan pengembangan sumber daya manusia kota pasuruan mempunyai beberapa tujuan yang pertama untuk menciptakan transpormasi layanan publik yang mudah dan cepat, kedua memujudkan birokrasi yang dinamis dan ketiga terwujudnya tata kelola yang baik. Sasaran yang diharapkan yang pertama menciptakan birokrasi yang kekinian, kedua membangun kapasitas manajemen pemerintah yang adaptif dan profesional dan ketiga penigkatan kualitas penyelenggaraan pemerintahan.

Kemudian Gus Ipul menyampaikan pendidikan ASN di Pemkot Pasuruan , jumlah ASN 3.122 orang yang mana untuk SD 2,04%, SMP 3,62%, SMA 20,17%, D1 0,22%, D2 1,92%, D3 14,63%, D4 0,99%, S1 48,3% dan S2 8,07% inilah gambaran ASN Kota Pasuruan untuk itu perlu diketahui terkait data potensi ASN. Kota Pasuruan mempunyai luas wilayah kecil 35,29 km dengan jumlah penduduk 208.006 jiwa dengan 4 kecamatan dan 34 kelurahan. Potensi pengembangan wilayah Kota Pasuruan diantaranya indutri dan pariwisata logam, mebel, batik, mamin, wisata religi, wisata bahari dan wisata kebudayaan.

Lebih lanjut dijelaskan Analisa pengembangan ada faktor internal yang pertama belum berjalannya pola karier penataan ASN, kedua belum optimalnya penerapan standart kompetensi ASN, ketiga belum tersedianya tenaga pendidik dan empat belum optimalnya penganggaran pengembangan kopotensi ASN.  Kemudian faktor eksternal yang pertama belum optimalnya pemanfaatan aplikasi, kedua penyederhanaan birokrasi, ketiga pada masa pandemi covid-19 adanya pembatasan kegiatan, keempat IKM data dan informasi yang diperoleh dari pengukuran secara kuantitatif dan kualitatif, kelima pengukuran indeks profesionalitas ASN dan peningkatan daya saing sumber daya manusia.

Kesimpulannya yang diambil pertama penataan SDM aparatur, kedua menerapkan standart kompeteni jabatan, ketiga mengalokasikan anggaran kompetensi, keempat penegakkan di siplin ASN, kelima penyederhaan birokrasi dan keenam pengembangan aplikasi peningkatan pelayanan masyarakat. (rmd)